Wednesday, May 21, 2014

BAGIAN-BAGIAN HATI



Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang beberapa lapisan hati, yang sebagian dijelaskan dalam beberapa hadits. Ada beberapa pendapat tentang lapisan yang membagi hati secara ruhani atau spiritual.

Pertama diungkapkan oleh Kang Zein, Senior Trainer Komunikasi Hati di ABCo Training Center bernama lengkap Zen el-Fuad dalam bukunya Sinergi Semesta. Beliau mengutip sebuah hadits yang berbunyi … Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Dan jika ia jelek, maka jelek pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah QOLBU (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam menerangkan hal ini beliau menulis bahwa dalam al-Qur’an istilah Hati dimunculkan dalam tiga bentuk, yaitu fuad, shodr, dan qolbu. Fuad adalah hati bagian paling dalam, kadang disebut hati nurani yang kelak membentuk karakter. Kemudian shodr adalah hati bagian terluar (terkadang disebut dada dan juga ada yang menyebut pikiran), sehingga shodr-lah yang paling dekat sinerginya dengan otak kita. Shodr tersebut kemudian akan membentuk kepribadian.

Sedangkan qolbu adalah hati yang bernuansa portal, bisa diibaratkan seperti pagar atau pintu masuk sebuah rumah. Seperti layaknya pintu masuk, maka sifat qolbu dapat berbolak-balik, sebagaimana hadis di atas, karena itulah qolbu adalah menjadi segumpal daging yang berperan di karakter dan juga kepribadian. Qolbu itulah yang terkadang membuat semangat kita naik turun dalam berbuat kebaikan. Qolbu juga yang akhirnya mempengaruhi ke-istiqomahan seseorang. Jadi tak salah jika dalam hadis di atas, hati itu sangat penting untuk dijaga agar tidak berbolak-balik sehingga kehidupan pun mendapat imbasnya yaitu ketidaktentuan hati (galau,red).

Secara sederhana, tiga lapisan hati tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Shodr adalah perwakilan dari sifat-sifat dasar kemanusiaan. Sedangkan fuad adalah ruh yang mewakili sifat-sifat ke-Tuhan-an dalam diri manusia. Maka karena Qolbu letaknya adalah di antara shodr dan fuad, maka ia bisa saja terkadang menjalankan fungsi-fungsi ke-Tuhan-an. Namun tidak menutup kemungkinan jika pada akhirnya juga menjalankan fungsi shodr sebagai perwakilan manusia, yang dikategorikan sebagai ‘hewan berakal’.Pada tatatan seperti itulah, kita dapat memahami secara jelas kenapa seseorang suatu saat dapat menjadi begitu baik dan dapat pula disaat lain berubah menjadi begitu jahat. Sisi jahat dan baik bersatu dalam diri manusia, maka keputusan berada dalam diri manusia itu sendiri. Benar bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (At-Tin:4). Namun benar juga jikalau potensi yang baik itu tidak dioptimalkan, maka akan menjadi lebih buruk daripada hewan terburuk sekalipun (At-Tin: 5). 

Penjelasan kedua saya akan mengutip pandangan ulama besar Mulla Sadra dalam kitabnya Mafatihul Ghaib. Menurut Mulla Sadra, hati dalam arti ruhani memiliki tiga tingkatan. Dimana antara manusia yang satu dengan manusia yang lain bisa saja berada dalam tingkatan yang berbeda. Ada baiknya kita mengenali hati kita ada di tingkatan yang mana.

Tingkatan pertama disebut Qolb. Qolb sesuai dengan artinya bolak balik, memang tidak stabil. Masih terjadi tarik menarik antara kebaikan dengan keburukan. Mari coba kita renungkan, bagaimana dengan diri kita? Apakah sering berada dalam kondisi tarik menarik antara yang hak dengan yang batil? Misalnya, ibadah kita jalankan dengan baik, namun disisi lain maksiat kita jalankan. Atau kadang dalam bekerja kita masih ada keinginan untuk melakukan kecurangan jika ada kesempatan namun kita takut dosa. Lalu kita bingung dan ragu mau melakukan atau tidak. Terjadi tarik menarik antara qolb dan nafsu. Jika demikian sesungguhnya tingkatan kita berada dalam posisi ini. Jika hati kita berada dalam tingkatan ini. Makanya kemudian dalam tasyahud akhir ada doa yang berbunyi: Ya muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ala dinika, wahai Zat yang maha pembolak-balik hati, pancangkanlah hati kami dalam agama-Mu!

Hati yang berada dalam tingkatan kedua disebut fuad. Fuad sebenarnya lebih dekat ke akal. Jadi hati yang sudah mampu mempertimbangkan sisi baik dan sisi buruk dari satu perbuatan. Hati yang sudah berani memilih kebaikan dan meninggalkan keburukan. Mengedepankan kebenaran dan meninggalkan kebathilan.

Adapun hati yang berada dalam tingkatan ketiga atau tingkatan tertinggi adalah lub. Lub adalah hati yang selain sudah mampu memilih kebaikan dan meninggalkan keburukan, juga telah terisi dengan kesadaran bahwa kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT. Sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hati yang sudah mengenal Tuhannya. Hati yang telah terisi dengan nur ilahi. Hati inilah yang sering berhak disebut Baitullah. Mungkin disini saya harus membedakan antara baitullah dalam diri dan baitullah dalam bentuk Ka’bah. Karena, mungkin selama ini, jika kita mendengar baitullah itu adalah ka’bah.

Baitullah dan haji memiliki dua makna. Makna hakikat dan makna syariat. Dalam makna syariat sebagaimana sudah sangat kita pahami, bahwa haji adalah perjalanan ke baitullah. Adapun haji dalam makna hakikat adalah perjalanan ke dalam diri untuk sampai pada derajat hati yang sempurna (lub), karena lub inilah hakikat dari baitullah yang simbolnya berupa ka’bah yang berada di Mekkah. Maka, seperti perjalanan haji ke mekkah yang begitu berat dengan keharusan menyiapkan mental fisik, pengetahuan dan waktu yang matang, ini adalah juga sebagai simbol betapa sulitnya mencapai tingkatan Lub dalam diri kita sendiri.

Apabila kita belum memiliki kesempatan melaksanakan haji secara syariat, sebenarnya ada kesempatan bagi kita untuk mencapai derajat haji secara hakikat. Yaitu dengan melatih diri kita, agar sampai pada tingkatan hati ketiga yang disebut Lub atau baitullah. Hati yang telah dimasuki cahaya Ilahi, hati yang telah mengenal Pemiliknya, Hati yang telah mengenal Tuhannya. Ada kalimat hikmah (oleh kalangan sufi diyakini sebagai hadis nabi) yang mengatakan: Man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu! Barang siapa telah mengenal dirinya (sampai pada tingkatan lub) maka sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya.

Kita juga perlu berlindung dari hati yang mati. Yaitu hati bila yang sudah tidak merasa bersalah lagi melakukan dosa dan kesalahan. Dalam alquran diistilahkan sebagai hati yang buta. Mari kita simak Surat Al-Hajj ayat 46: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah ayat 23). 

Penjelasan ketiga adalah hanya membagi hati menjadi dua tingkatan saja. Dalam bahasa Arab istilah “hati” sebenarnya bersumber pada dua kata: Kalbu dan Fuad. Sayangnya, karena keterbatasan kosa kata dalam bahasa Indonesia, kedua kata tersebut diterjemahkan sama, menjadi ”hati”. Padahal, keduanya memiliki penekanan makna yang berbeda. Kalbu lebih menunjuk kepada sosok lahiriah dari hati, sedangkan fuad lebih mengacu kepada hati yang bersifat batiniah. Karena itu, kita harus hati-hati dan cermat menangkap maknanya, sesuai dengan konteks ayat atau kalimat hadits yang kita jadikan rujukan. 

Misalnya, hadits berikut ini. Alaa wainna fiil jasadi mudhghatan idzaa shalahat shalahal jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasadal jasadu kulluhu alaa wahiyal kalbu - “Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging itu adalah kalbu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

Apabila hadits diatas diartikan secara batiniah, maka ia akan menganggap bahwa kalbu adalah sumber akhlak. Sehingga kalau akhlaknya rusak, maka rusak pula seluruh nilai kemanusiaan orang tersebut. Dan sebaliknya, jika baik akhlaknya, maka menjadi baik pula dia sebagai manusia. Pemaknaan semacam ini sepintas lalu tak bermasalah. Tetapi, kalau kita mau mencermati, kalimat hadits itu sebenarnya berbicara ”hati” secara fisikal, dan berbicara tentang kesehatan biologis. Bahwa ada segumpal daging, diistilahkan sebagai mudhghah, yang memiliki peran sangat penting dalam tubuh manusia, sehingga jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula tubuhnya. Dan jika baik, maka baik pula tubuhnya. Lantas disebutlah segumpal daging itu sebagai kalbu sesuatu yang bermakna ”bergetar bolak-balik”. Mudhghah yang dimaksud dalam hadits tersebut tidaklah bersifat batiniah, melainkan bersifat lahiriah alias fisikal. Yakni, menunjuk kepada jantung, yang memang memiliki getaran bolak-balik, sebagaimana terlihat dalam grafik hasil rekaman Electro Cardiograph (ECG). 

Selain itu, penafsiran kalbu sebagai jantung juga dikuatkan oleh ayat Alquran yang menjelaskan secara harfiah bahwa kalbu adalah segumpal daging yang ada di dalam dada. QS Al Hajj (22): 46, ”… al quluubullatii fiish shuduur – hati yang berada di dalam dada. ” Yang di ayat lain lagi disebut sebagai organ yang bisa bergetar-getar ketika mengalami peristiwa tertentu yang emosional. QS Al Anfaal (8): 2. ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal". 

Yang menarik, selain bersifat lahiriah dan biologis, jantung juga memiliki mekanisme yang menjembatani fungsi-fungsi batiniah, yakni emosi. Khususnya pada variable getarannya. Inilah satu-satunya organ yang bergetar-getar secara berbeda-beda dan nyata, ketika emosi kita sedang berubah-berubah. Saat terharu jantung kita bergetar. Saat marah menggeletar. Saat rindu dan jatuh cinta berdebar-debar. Bahkan saat takut, gemetarannya sampai menjalar ke seluruh tubuh. Itulah sebabnya jantung menjadi organ yang khas, yang memiliki fungsi lahiriah dan batiniah secara simultan. Mudah dideteksi tanpa menggunakan peralatan yang rumit. Dan karenanya bisa dijadikan sebagai salah satu parameter untuk mengetahui perubahan emosi yang terjadi di dalam diri seseorang. Termasuk yang terkait dengan keimanan dan spiritualitas. Contohnya, ayat di atas. Bahwa, untuk mengetahui seseorang beriman atau kurang beriman bisa diketahui dari gemetarnya jantung kita saat mendengar nama Allah disebut, atau saat firman-firman-Nya dibacakan. 

Jadi, secara sederhana, getaran-getaran jantung kita adalah representasi dari perubahan-perubahan emosional yang terjadi secara batiniah. Dan perubahan-perubahan emosi itu menunjukkan gejala spiritualitas yang lebih dalam yang berpusatkan di ”hati” yang lebih batiniah yang diistilahkan sebagai fuad. Karena itu, secara sederhana pula saya menyebut ada dua macam hati. ”Hati luar” adalah kalbu, sedangkan ”hati dalam” adalah fuad. 

Tentang fuad ini, Alquran bercerita bahwa saat Nabi Muhammad didatangi malaikat Jibril di Gua Hira’, fuad menjadi pintu masuk spiritual bagi turunnya wahyu. Penglihatan beliau bersifat batiniah. Lebih halus dibandingkan kalbu yang getarannya bisa dirasakan secara fisikal. Getaran fuad adalah getaran radar jiwa yang sangat lembut tetapi sangat akurat, sehingga tidak mungkin tersesat. Inilah sumber inspirasi, intuisi, ilham dan wahyu, yang dialami oleh para nabi. 

Memang sulit untuk dijelaskan secara empirik dan objektif, karena sudah memasuki kawasan subjektif. Tetapi sebenarnya, bagi jiwa yang suci, mekanisme ini memiliki akurasi yang sangat tinggi. Dan itu hanya bisa dirasakan yang bersangkutan. Karena itu dalam ayat berikut ini, Allah memberikan pembelaan kepada Rasulullah ketika penglihatan beliau itu tidak dipercaya oleh sebagian masyarakat waktu itu. Bahwa, apa yang beliau alami itu benar adanya. Beliau tidak sedang tersesat ataupun keliru. Karena, apa yang diterimanya dari malaikat Jibril itu benar-benar wahyu. QS An Najm (53): 2-11. “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan bukanlah ucapannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (ayat-ayat Alquran) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas. Dan (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu, dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hati (fuad)-nya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”  

Demikianlah, pada orang-orang yang berhasil mensucikan dirinya, radar jiwa yang namanya fuad itu akan bertambah tajam, sehingga menjadi mekanisme munculnya petunjuk Tuhan secara batiniah. Lewat mata hati. Persis seperti yang terjadi pada Rasulullah saat berkhalwat di Gua Hira’, ketika didatangi malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu pada malam al Qadr. 

Itulah beberapa penjelasan tentang lapisan atau bagian-bagian dari hati secara batiniyah, yang berpulang pada masing-masing kita untuk menyimpulkannya. Wallahu a’lam.

1 comment:

  1. Tingkatan hati sesuai dengan tingkatan kecerdasan manusia.

    Ada 5 tingkat kecerdasan manusia sesuai dengan tingkatan hati :
    1. Kecerdasan biner (nafs) yang dimiliki Ulul nafs (Basyar)

    2. Kecerdasan kuantum (shadr) yang dimiliki oleh Ulul shadr (Annas)

    3. Kecerdasan super (qalbu) yang dimiliki oleh Ulul qalbu (insan)

    4. Kecerdasan Imanen (Fuad) yang dimiliki oleh Ulul fuad (insan kamil)

    5. Kecerdasan transenden (lub) yang dimiliki oleh Ulul Albab (Kamil)

    ReplyDelete